Monday, May 19, 2014

Dawegan

Kakek gw tinggal di daerah bernama Desa Sukamaju, lebih tepatnya dideket perbatasan antara Ciamis sama Tasikmalaya. Gw pas kecil, tepatnya pas jaman sd-smp, sering banget mudik ke kampung halaman gw yang itu. Walaupun gw dulu agak sedikit kesel dimana gw harus melewati 6 jam perjalanan melalui liku-liku daerah Puncak dan Nagreg (dulu belum ada Cipularang) ditambah kadang gw muntah-muntah gara-gara mabuk kendaraan, gw tetep seneng kesana. Hal yang paling bikin gw seneng adalah karena gw disambut sama temen-temen gw disana serta kakek nenek gw.
Paling gw inget adalah pas gw bareng temen-temen gw. Umumnya temen-temen gw pada nunggu di depan rumah nenek gw sambil manggil gw ngajak maen. Gw berangkat ke lapangan bareng temen gw maen sepakbola biasanya. Kadang ikut bareng kakek gw "ngusep" atau mancing. Ya, gw sama temen-temen gw cuman nunggu sambil maen kartu disaat kakek gw mancing. Kalo kata dunia pariwisata, hospitalitynya yg gw rasakan disana sangat besar.
Tapi, kekeluargaan kerasa banget pas abis maen, umumnya kakek gw minta petugas kebun deket makam buat ngambil dawegan atau kelapa di kebun itu. Kakek gw beli dari petugas kebun itu lalu motong dawegan yang dibeli itu buat disantap bareng gw dan temen-temen gw. Ya, kadang temen gw sering rebutan ngga jelas dan kakek gw marahin. Namun, disana gw sangat menikmati dawegan itu bareng temen gw sambil bincang-bincang; melepas lelah dari main-main di lapang.
Sekarang ini, gw merasa kekeluargaan dalam perkuliahan gw sangat kompleks. Dituangkan dalam bentuk visi misi ketua himpunan gw, gw merasa aneh karena kekeluargaan ini dikaitkan dengan kewajiban, profesionalitas, dll. Ya, hidup emang berubah sepanjang umur gw bertambah. Gw merasa arti dari kekeluargaan ini terlalu sulit untuk dimengerti. Ditambah dengan munculnya istilah "kekeluargaan yang semu", gw semakin bingung apakah kekeluargaan di perkotaan memang berbeda jauh dengan di kampung?
Dalam suatu diskusi tentang angkatan gw suatu malem, ketua angkatan gw bingung bagaimana meningkatkan kekeluargaan di internal angkatan. Pertanyaan ini sangat tidak bisa gw jawab karena kekeluargaan sendiri bukan untuk dibentuk secara conscious, tapi ada begitu saja dalam kegiatan yang dijalani bersama. Mungkin kurang adanya momen "dawegan-dawegan" dalam angkatan gw lah yang membuat angkatan gw desperate untuk membangun kekeluargaan tersebut.
Hal ini ngga hanya terjadi dalam angkatan gw, tapi dalam formulasi suatu visi misi atau kaderisasi. Dicantumkan dalam suatu visi misi, gw merasa bingung kenapa sebegitu inginnya orang untuk membentuk kekeluargaan secara sadar. Hal ini diperparah dengan menyantumkan misi dalam mengaccomplish visi ini dalam bentuk program kerja. Hilang sudah arti kekeluargaan yang sejati itu.
Entah faktor lingkungan atau apa yang membuat semua hal sekarang bersifat kompleks. Kepraktisan akan kekeluargaan pun sirna karenanya. Ya, sulit memang untuk mencari sesuatu yang simpel ketika berbicara tentang manusia. Kedinamisannya membuat kita trus berfikir untuk mencari solusi yang tepat. Momen "dawegan-dawegan" itu pun bisa jadi dirasa kurang efektif dalam mengatasi kurangnya kekeluargaan tersebut. Namun, gw selalu berharap agar rasa kekeluargaan selalu ada baik dalam angkatan maupun dalam karier gw nanti karena gw tau kekeluargaan membuat kehadiran orang jadi lebih berarti. 

Karbon

Udah 4 bulan lebih rasanya gw ngelewatin satu tahap penting di kampus gw tercinta, yaitu osjur atau ospek jurusan. Ya, emang capek banget rasanya waktu itu gw laluin bersama teman-teman satu angkatan gw. Ada masa ketika angkatan gw cekcok satu sama lain tentang hal yang bernama osjur ini. "Ngga jelas", "Kakaknya ngga adil!", "Tugasnya berat.", dan lain sebagainya. Komentar dari tiap individu di angkatan gw membuat gw menarik satu benang merah antar mereka, apakah osjur semacam ini perlu?
Gw sempet berbincang-bincang sama temen sd gw, yang dimana sekarang dia kuliah di York University, Ontario, Canada. Dia nanya tentang bagaimana sistem perkuliahan di Indonesia dalam bidang organisasinya. Ketika gw bilang apa yang terjadi di kampus gw, temen gw ngomong satu statement dimana gw langsung bertanya tentang apa esensi dari yang telah gw lalui. Dia bilang "What a harsh life you have." Mengingat kembali apa yang waktu dulu temen-temen di angkatan gw bilang, gw bertanya ke diri gw dengan perspektif yang lebih luas, apakah sistem kaderisasi di negara gw mesti seperti ini?
Masuk ke tahap menuju pengkader, gw suka mengkaji dengan teman gw, dimana sekarang dia ngejabat sebagai ketua osjur selanjutnya. Diskusi yang dilangsungkan selalu sama, gimana membuat osjur yang mendekati ideal? Bahkan, kadang diskusi ngarah ke pertanyaan apakah kita perlu melakukan osjur ini? Seperti biasa, jawaban variatif tiap orang dengan menghasilkan pro kontra antar satu sama lain. Perspektif orang pun berbeda-beda melihat dari teknis osjur, materi osjur, bahkan yang paling sepele, perlakuan para panitia kepada para kader.
Gw mulai mendapat pencerahan ketika gw dapat training tentang menjadi pengkader dari senior gw. Sebenarnya, apa yang didiskusikan teman-teman gw dahulu serta gw adalah bagaimana gw merespon osjur secara dangkal. Osjur sendiri merupakan tahap dari kaderisasi yang intinya menyiapkan para kadernya menjadi pemimpin. Dalam kaderisasi ini, ada nilai-nilai yang ingin ditanamkan bergantung kepada kebutuhan organisasi itu sendiri.
Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan gw, kenapa osjur mesti identik dengan "harsh" yang dikatakan temen gw itu? Bukankah di negara lain organisasi pada umumnya bersifat minat aja? Kalo diibaratkan, manusia itu sebagai karbon, ia bisa memilih untuk menempa diri jadi grafit yang lemah atau intan yang kuat. Secara realita, ngebentuk grafit lebih gampang karena delta Gf nya lebih kecil#sokengineer lg. Berarti jarang ada yang mau jadi intan yang kuat. Oleh karena itu, advantage dari osjur sendiri adalah karena sifatnya maksa; bikin orang tuh dipaksa untuk menempa dirinya jadi si intan. Tapi, ya walaupun begitu, secara realita orang yg merasakan osjur dan diluar osjur tidak semua menangkap maksud dari osjur itu sendiri. Ditambah panitia osjur yang kadang bermain dengan emosi dan melupakan tujuan osjur sesaat. Ya in the end, terciptalah label "harsh" tadi.
Walau pendapat orang bagaimana, satu hal yang perlu diperhatikan adalah kaderisasi itu perlu karena kalau kita liat, menjadi manusia yang ideal merupakan cita-cita bukan hanya untuk individu yg bersangkutan, tapi juga masyarakat pula. Oleh karena itu, sewajarnya memang kaderisasi itu diperlukan.

Sunday, May 18, 2014

Coca-cola

Ini terjadi ketika gw dulu pacaran pas SMA, ya sebut saja mantan gw si S. Kerasa banget awal-awal hidup gw bakal kaya lirik lagu You nya Basil Valdez. Wajar, pertama kali pacaran dan bulan-bulan pertama, ngga terlalu lebay kalo misalnya gw bilang kaya lirik lagu ini. Gw yang awalnya cuman tau belajar doang sekarang udah tau apa itu pacaran dll. Sampe di suatu titik, gw merasa ada kekecewaan besar yang membuat akhirnya gw kaya lirik lagu After the Love has Gone. Hilang itu semua kata suka dan cinta yang gw utarain ke dia. Ya, itu adalah titik jenuh atau saturated point #sokengineer.

Ini sebenernya contoh dari banyak masalah umum yang gw soroti tidak hanya di hidup gw tapi di hidup orang lain. Semangat dalam berkomitmen kalo bisa dideskripsikan dengan frasa untuk masalah umum yang gw ingin highlight. Hal ini juga kejadian tidak hanya dalam masalah pacar-memacar, tapi juga masalah akademik ataupun organisasi. Pas dulu gw keterima di ITB, terasa banget euforia gw bagaimana. Ketidak sabaran gw untuk menuntut ilmu, berkomitmen untuk memberikan segenap kemampuan gw untuk membanggakan orang tua gw terasa mengalir banget di sistem peredaran darah gw. Saking ngga sabarnya, gw udah ngebeli buku kuliah bahkan sebelum gw memulai perkuliahan gw. Ya, tapi seperti yang gw bilang dengan masalah umum tadi, ngga sampai satu tahun gw udah jenuh dengan rutinitas yang gw lakukan.

Kalo menurut ekonomi, gw itu adalah orang-orang yang patuh sama Hukum Gossen I yang intinya kita bakal bosen dengan produk yang kita beli terus menerus. Manusia itu memang dinamis kehidupannya, selalu ada posisi ketika dia bergelora dengan semangat dan posisi jenuh. Kalo diibaratin, manusia itu bakal mengikuti prinsip coca-cola dimana ketika dikocok dan dibuka, buihnya bakal banyak banget. Tetapi, setelah beberapa menit, buihnya bakal hilang. Buih itu dianalogikan semangat untuk berkomitmen itu. Banyak sekali ketika memulai pertama kali dan perlahan hilang begitu saja.

Memang sulit untuk mengovercome hal seperti ini. Bukan di ranah pribadi saja, dalam kerjaan pun seperti itu. Setahun yang lalu, gw mengikuti seminar Integrated Petroleum Week dimana disana menghadirkan pembicara-pembicara dari perusahaan migas prominen. Ada suatu bagian yang menarik perhatian saya ketika salah satu pembicara dari Halliburton mengingatkan tentang bagaimana pekerjaan di offshore. Diperlihatkan bagaimana pekerja-pekerjanya banyak yang ingin pulang ke rumahnya setelah berapa lama berada di offshore serta bagaimana rutinitas disana. Dari presentasi yang diperlihatkan, gw menyimpulkan bahwa sang pembicara ingin memberitahu audiens bahwa untuk mereka semangat untuk berkomitmen penting. 

Efek Coca-cola memang cukup bikin risih. Tak bisa kita pungkiri bahwa kita pernah mengalami efek ini. Dari kerja, akademik serta pergaulan sekalipun. Namun, disitulah kita sebagai manusia yang diuji untuk dilatih bagaimana komitmen kita untuk melakukan sampai akhir. Kita sebagai manusia selalu dihadapkan dengan temptation yang berat harus bisa melawan ke"mager"an itu. Mengingat kembali seperti apa rasanya momen awal itu bisa menambah "buih-buih" dari Coca-cola tersebut.

Bahagia

Bahagia, kalo didefinisikan sama banyak orang, pasti jawabannya berbeda-beda. Sama kaya gw ketika memandang bahagia itu kaya apa. Bahagia sendiri menurut gw adalah ketika gw merasa tidak stress karena gw tau ketika gw stress, gw ngga ngerasa bahagia. Hal ini gw aplikasiin ketika gw melihat orang seperti itu. Stress sendiri gw menilai dari ketidakpuasan atau kekecewaan yang memuncak terhadap suatu hal. Ketidakpuasan atau kekecewaan ini bisa bermacam-macam. Gw mengambil contoh teman gw, sebut aja si A. Si A ini memiliki ambisi untuk mendapat posisi ketua dalam suatu kegiatan di himpunan yang gw masuki. Namun si A tidak bisa mencapai posisi ketua dikarenakan dukungan temannya yang sedikit. Kekecewaan terhadap teman-temannya yang ngga mendukung dia membuat gw mengecap dia sedang stress. Lalu, sesuai definisi awal yang gw sebutkan, gw bisa menyimpulkan dia tidak bahagia. Sedihnya lg, tidak hanya gw yang mengecap seperti itu, tapi angkatan gw juga yang akhirnya terciptalah label "pundung".

Bicara tentang bahagia melalui definisi awal gw, agak sulit sepertinya untuk mendapatkan kebahagiaan secara permanen. Ada saatnya pasti kita semua ngerasain kecewa terhadap suatu kondisi. Hal-hal yang membuat kita kecewa tentunya sulit terelakkan. Ketika gw mendapatkan nilai yang ngga bagus di kuliah gw, gw merasa gw ngga bahagia. Ketika gw sakit dan kecewa gw ngga bisa nongkrong bareng temen-temen gw, gw merasa gw ngga bahagia. Bahkan sampai hal sepele seperti gw kecewa dengan perlakuan teman dekat gw, gw merasa ngga bahagia. Kalau bisa dibilang, bahagia dari perspektif gw adalah bahagia yang standarnya terlalu tinggi.

Tapi, gw tau bahwa gw punya pilihan untuk itu semua. Gw punya pilihan untuk tidak kecewa dengan keadaan yang ada. Gw punya pilihan untuk bangkit setelah termakan dengan kekecewaan gw menumpuk. Gw punya pilihan untuk mengejar kebahagiaan untuk gw sendiri. Gw punya kebebasan untuk mencari pelarian dari kekecewaan yang ada. Berdasarkan buku yang gw baca, bahagia itu tanggung jawab gw karena kebahagiaan itu merupakan sebab dari pikiran gw sendiri. Reaksi dari kondisi yang ada merupakan buah dari pikiran kita. Nah, dari pikiran ini kita bisa gampang untuk me overcome kekecewaan itu. Kalo kata pak Abraham Lincoln, "Most folks are as happy as they make up their minds to be" yang artinya orang tuh bisa bahagia kalo mereka sendiri berpikir untuk bahagia.

Kalo bisa gw simpulin, bahagia itu adalah cause and effect. Apa tindakan kita terhadap satu kondisi yang mengecewakan akan menghasilkan kebahagiaan yang nihil atau nyata. Semua bergantung kepada pikiran kita. Apakah kita mau tersenyum dengan kondisi yang ada atau menangis atas kejadian yang menimpa kita itu adalah sebuah pilihan. Pilihan yang menentukan seberapa berharganya hidup kita dari perspektif kita.




Monday, February 24, 2014

Kehidupan mahasiswa Teknik Kimia ITB

Setelah lulus dari sma, saya memutuskan untuk meneruskan studi saya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya ke Fakultas Teknologi Industri ITB. Melihat pengumuman saya telah diterima di FTI ITB melalui jalur undangan, saya pun berterima kasih kepada Allah yang memberikan kesempatan emas kepada saya untuk menikmati kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Tahun pertama di ITB umumnya berlangsung santai namun tetap serius. FTI ITB merupakan salah satu fakultas yang mengkondisikan hal seperti itu. Mengikuti arus dari teman-teman sefakultas yang memiliki semangat belajar yang tinggi setidaknya menyelamatkan posisi kita di jajaran ip 3.5 ke atas. Namun, walaupun terkenal akan semangat belajarnya yang tinggi, waktu bersantai pun tetap ada. Bahkan, waktu santai pun masih ada walaupun kita sudah mengikuti kegiatan unit dll.

Jurusan di FTI ITB yang umumnya terfavorit adalah Teknik Kimia. Persaingan masuk untuk angkatan saya pun cukup berat. Umumnya agar bisa selamat, ipk minimal untuk masuk adalah 3.4. Namun, hal ini juga tergantung dengan minat tiap angkatan. Apablia yang berminat untuk masuk Teknik Kimia berkurang, maka kursi untuk masuk Teknik Kimia semakin banyak. Disamping jurusan Teknik Kimia, ada juga jurusan Teknik Fisika, Teknik Industri, serta Manajemen Rekayasa Industri.

Teknik Kimia, dilihat dari kurikulum tidak sepenuhnya belajar tentang kimia. Sejujurnya, teknik kimia ini lebih banyak mempelajari ilmu setipe dengan fisika. Termodinamika dan Mekanika Fluida merupakan contohnya. Teknik Kimia mempelajari tentang proses yang melibatkan reaksi kimia. Seorang Chemical Engineer dituntut untuk bisa menyusun proses suatu barang mentah menjadi produk yang bernilai jual tambah. Seorang Chemical Engineer juga dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada pabrik secara teknik kimia.

Kehidupan di Teknik Kimia ITB sendiri cukup berat. Dimulai dari pelajaran semester 3 sampai dengan tugas akhir penelitian pada semester akhir. Kehidupan di Teknik Kimia sendiri seperti tidak ada matinya. Deadline dari tugas, laporan, pr, dll terasa sangat ketat. Laboratorium Teknik Kimia merupakan salah satu yang paling menguras tenaga karena deadlinenya yang ketat, pembicaraan dengan dosen, dry-run, labtek, serta laporan yang berlembar-lembar yang belum tentu diapprove oleh dosennya. Berbeda dengan masa tahun pertama, adaptasi ulang mesti dilakukan agar bisa selamat di jurusan ini. Teknik Kimia ITB merupakan salah satu prodi terberat di ITB selain Teknik Perminyakan, Teknik Tenaga Listrik, dll.

Tapi, hal yang umumnya dikejar sarjana adalah kerjaan dan di Teknik Kimia ITB, bisa jadi anda yang dikejar oleh pekerjaan. Orang-orang dengan gelar Cum Laude pada saat lulus siap-siap ditawari kerja dari berbagai perusahaan. Hal ini terjadi karena mereka tahu bagaimana sulitnya kehidupan di Teknik Kimia ITB. Bagi yang tidak dikejar-kejar pun tetap mudah mencari pekerjaan karena pada dasarnya seorang sarjana teknik kimia belajar tentang proses yang melibatkan reaksi kimia dimana hampir seluruh produk yang dihasilkan di dunia membutuhkan proses reaksi kimia. Sarjana Teknik Kimia umumnya bekerja di perusahaan oil&gas, FMCG (Fast Moving Consumer Goods), konsultan, dan lain-lain.

Secara umum, kehidupan di Teknik Kimia ITB memang berat. Pelajarannya yang berat menjadi salah satu tantangan dari prodi ini. Namun, itu kembali lagi dengan keputusan apa yang ingin Anda ambil. Apakah akan melewati jalur ini atau tidak. Teknik Kimia ITB merupakan salah satu jalan yang berliku-liku namun memiliki prospek yang cerah kedepannya.

Sunday, February 23, 2014

Momen

Setiap orang, baik dia kaya atau miskin, tua atau muda, pasti memiliki momen-momen yang mereka kenang. Momen tersebut bisa jadi momen yang indah maupun tidak. Momen tersebut bisa menjadi seseorang terdorong untuk melakukan sesautu, namun bisa jadi membuat orang trauma melakukan untuk kedua kalinya. Momen bisa terjadi secara spontan, maupun direncanakan secara detil.

Sepengelihatan saya selama ini, banyak orang secara tidak langsung mencari atau mengenang kembali momen-momen tersebut tanpa peduli apa yang mesti mereka keluarkan untuk itu. Seorang anak yang merantau jauh untuk melanjutkan pendidikan di kota yang nun jauh disana pun pasti merindukan momen-momennya menikmati hari raya idul fitri dengan keluarganya. Ia mengorbankan uangnya untuk transportasi pulang pergi dan sebagainya hanya untuk menikmati momen itu kembali.

Dari politisi hingga masyarakat umum tentunya ingin memanfaatkan momen dari kehidupan mereka sebaik-baiknya. Ketika terjadi bencana alam menimpa suatu daerah, para politisi memanfaatkan momen tersebut agar para masyarakat memilihnya untuk menjadi presiden dan lain-lain dengan cara memberikan bantuan untuk para korban. Seorang laki-laki yang menyukai teman perempuannya mesti mendapat momen yang tepat untuk bisa menyatakan cintanya kepada sang perempuan tersebut.

Sebegitu pentingnya momen sehingga hal ini pun dimanfaatkan menjadi peluang bisnis oleh para pebisnis. Momen-momen seperti kumpul keluarga, teman dan sebagainya tentunya ingin sekali diabadikan. Kamera dan Handycam pun dibuat untuk memenuhi kebutuhan akan pengabadian momen ini. Ketika para fans penyanyi mereka akan tampil namun tiket konsernya habis, para calo pun beraksi karena mereka tahu para fans ingin sekali menikmati momen-momen ketika para fans bisa mendengar suara penyanyi idola mereka secara langsung.

Momen terjadi secara singkat namun penuh dengan arti. Momen bisa bersifat konstruktif dan destruktif tergantung dari cara kita melihat. Momen bisa jadi sesuatu yang cepat dan mudah dilupakan, bisa jadi kenangan yang ingin selalu diingat dan diabadikan. Terlepas dari itu semua, momen membuat hidup berwarna. Apakah momen berikutnya? Apakah akan menyenangkan atau tidak? Yang pasti momen adalah bagian dari kehidupan. Kita pasti akan mendapatkannya baik suka maupun tidak suka.

Saturday, February 22, 2014

Integrity

Back then, I was not to concern about the act of integrity. For me, integrity in real life is defined as some moral value that is inscribed in civil studies or some bed time stories. Comparing to what happen in my country, integrity is something very rare to get. Corruption that make my country meet its downfall and bribes which make the law of my country can be bought makes integrity becomes something that can only be imagine. 

It still affecting me during high school. Some students work hard to get high scores, others the otherwise. I, in one of the best high school in my city, still found people who work their way to pass high school by cheating at the national exam. Some are caught red-handed during national exam. However, nothing happen to that student. Again, integrity is just some word defined by experts and dictionaries.

During orientation day in one of the best campus in the country, I found the word integrity came from orator of the orientation day. That word came out also from the chairman of student's cabinet, rector, dean, lecturer and the committee of the orientation day. I changed my definition of integrity as something you get again during your college life. 

This paradigm amplify when I start my day as chemical engineering community candidate. The community have their own culture, one of them is the culture of integrity. The term of integrity here is not only about truthfulness, but also to become a man with his word. At first, I think this is only the outcome of thinking from the former of this community. Based on what I see, every rules or law or culture is formulated perfectly, but the implementation is far from the objectives the rules and law is made. So, I am still skeptic about the culture.

What I see was something different from I see during high school or everyday news in television. The students in here really uphold their culture in their studies. There is no single person in my class who cheated even if it's only a quiz. My friends also know that they need to keep their value in their life because some day maybe one or two will run this country. Whether the country became develop or not, they know that it depends on the people who runs it. People that don't bring moral values in their mind tends to neglect moral values in their action.

I realize that the key to keep this value in life is by making it a habit. Habit start with the act of imitation. Son try to act like his father by imitating what he do. If his father likes to pray five times a day, his son tends to pray five times a day. If his father likes to lie, his son tends to lie. The act of lying develop into the act of cheating and finally developing the son into hypocrites and corrupt person. This chain of chaos can be broken by giving good examples to people. By giving good examples also, people develop their mindset and understand the effect of bad habits.